Gunung Pengsong

Tiap hari besar agama Hindu, Pura Pengsong di puncak Gunung Pengsong, Desa Kuranji, Lombok Barat selalu ramai dikunjungi Umat Hindu

Gunung Pengsong


Tiap hari besar agama Hindu, Pura Pengsong di puncak Gunung Pengsong, Desa Kuranji, Lombok Barat selalu ramai dikunjungi Umat Hindu. Mereka datang dari seluruh pelosok Pulau Lombok untuk bersembahyang, termasuk ketika merayakan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Umat Hindu dari Bali pun sering melakukan tirta yatra di Pura Pengsong. Pada hari Raya Galungan  ratusan umat Hindu melakukan patirtan diteduhi pohon beringin yang berdaun lebat di bagian selatan pelataran Gunung Pengsong.  Mereka lalu menuju Melanting, dan terakhir menuju tangga naik mengarah ke Pura Pengsong di puncak gunung. Saat malam hari ada juga yang mekemit di pura. Mereka yang datang silih berganti. Pura Gunung Pengsong menjadi salah satu pura yang wajib dikunjungi umat Hindu di Pulau Lombok. Menurut sejarah, Pura Gunung Pengsong merupakan tempat Ida Ketut Subali mendarat pertama di Padang Rea, tepi pantai Kuranji Lombok Barat. Ida Ketut Subali dengan 200 pasukannya dari Karangasem Bali ketika berjalan masuk Pulau Lombok sampai di kawasan gunung. Mereka tersesat oleh lebatnya pepohonan. Diatas puncak gunung yang disebut “Mur”, ida mendapat petunjuk bahwa gunung tersebut merupakan tempat suci, yang dipuncaknya harus berdiri sebuah pura.  Pura Pengsong tersebut dibangun kakaknya  yang benama Ida Wayan Subali. Gunung Pengsong dengan ketinggian sekitar 200m merupakan sebuah bukit namun oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan sebutan gunung. Dipuncak gunung terdapat Pura Gunung Pengsong dan ditengah pura tersebut terdapat sebuah batu ceper berukuran besar. Batu tersebut  menunjukkan posisi tertinggi Gunung Pengsong yang dulunya digunakan sebagai tempat duduk Ida Ketut Subali. Naik ke puncak Gunung Pengsong pengunjung harus mendaki 275 anak tangga. Jalan kecil sempit dan menanjak diantara bebatuan sejauh 25m ditempuh, barulah tiba di puncak gunung dimana Pura Gunung Pengsong berdiri. Disepanjang jalan menuju puncak, banyak terdapat Kera Abu Ekor Panjang (Macaca Fascicularis) yang merupakan penguhuni Gunung Pangsong sejak dahulu. Kera-kera ini dikeramatkan dengan sebutan “Jro Sedahan”. Dari puncak Gunung Pengsong tampak pemandangan Kota Mataram, kawasan Lombok Barat dan sekitarnya. Di arah utara bagian timur nampak Gunung Rinjani yang juga menjadi tempat suci bagi umat Hindu. Di pojok selatan bagian timur agak kebawah, terlihat goa raksasa yang diatasnya terdapat pelinggih Gunung Sari dan Betara Bagus Jawa. Hal ini diterangkan dalam buku Kupu-kupu Kuning. Dari puncak tampak pula Pura Gunung Kuripan, di Gunung Sasak Kuripan Lombok Barat. Di bagian selatan arah barat bawah, tampak pelinggih ukir kawah. Dari sini akan terlihat Pura Singaji yang ada di dusun Sengkongo, Kuranji, dan Pura Song Landak di wilayah Sekotong Barat, dusun Medang Lombok Barat. Di arah barat puncak gunung terlihat pelinggih Gunung Agung. Di Gunung Pensong inilah diyakini tempat pelinggih Gunung Pengsong, Gunung Agung, Meranggu, Gunung Rinjani, Gunung Sari, Betara Bagus Jawa (Majapahit). Keramaian di Pura Gunung Pensong juga terjadi saat pujawali, “Anggarakasih/Anggara keliwon wuku Prangbakat”.  Saat itu ada kegiatan pemotongan hewan yang akan dijadikan sesajen. Pemotongan dan memasaknya langsung dilakukan di puncak Gunung Pengsong. Setelah memandikan kerbau sebagai ternak yang akan dijadikan sesajen di Pura Rambut Diwi, Punia Mataram pada hari H pujawali, umat Hindu berkumpul di pura Penataran Agung Mumbul untuk berangkat ke Gunung Pengsong. Kemudian sebelum ke Gunung Pensong kerbau itu dimandikan lagi di kali babak, di bagian selatan dusun Sengkongo Kuranji, barulah dinaikkan ke puncak gunung untuk dipotong.

Share This